|
Page 1 of 2 Sejak terjadi krisis ekonomi Indonesia sejak tahun 1998 hingga saat ini, masih belum mencapai titik terang kearah pemulihan dari krisis ekonomi bahkan yang ada hanya bertambahnya berbagai macam masalah – masalah yang kita harus hadapi kedepannya,. Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor.
Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.
Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Sementara si kaya sibuk menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, ketakutan, kekhawatiran akan harga terus melonjak, tapi itulah kenyataan yang ada.
Penulis menyadari, betapa ruwetnya pemerintah dalam menangani berbagai macam persoalan yang salah satunya krisis ekonomi yang tak berkesudahan hingga pemerintah dengan suka tidak sukanya mengambil keputusan atau kebijakan yang harus ditempuh yaitu dengan menaikkan harga BBM. Dampak dari kenaikan harga BBM adalah suatu hal yang sudah biasa bila berpengaruh terhadap harga-harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut beranjak naik sehingga daya beli masyarakat bawahpun akan bertambah tersengal-sengal.
Ada tiga unsur yang mendominasi krisis / konflik di Negara Indonesia tercinta ini, yaitu krisis politik, krisis ekonomi dan krisis agama inilah yang disebut krisis multidimensi. Sementara disesi lain belum begitu pulih sudah timbul lagi masalah lain yaitu krisis agama, kalau bicara masalah krisis agama seperti apa kita ketahui bersama baik dari media cetak maupun elektronik bahwa yang namanya krisis agama sudah mengarah ketitik yang sangat mengkhawatirkan disitu diperlihatkan betapa prihatinnya kita melihat para pemuka/tokoh agama (baca: pintar agama) yang selama ini hanya mengarah terhadap kepentingan pribadi dan kelompoknya saja dengan menonjolkan powernya masing-masing dan merasa dirinya paling benar dan biasanya kalau sudah tertanam dalam dirinya merasa yang paling benar, cenderung akan sangat mudah sekali untuk bisa menyalahkan orang lain dan memvonisnya tanpa dievaluasi terlebih dahulu.
Dengan berdalih jihad dan amar ma’ruf nahi munkar dengan didasari merasa yang paling benar, akhirnya untuk mewujudkan maksud dan tujuannya ditempuh dengan segala carapun sampai kelewat batas maka timbulah bentuk kekerasan, main pukul dengan semena-mena, tidak manusiawi, merusak fasilitas orang lain maka terjadilah bentrokan-bentrokan/kerusuhan dimana-mana yang ujung-ujungnya sangat memalukan dan merugikan umat Islam, ironisnya mereka-mereka itu terdiri dari yang mengaku-ngaku orang-orang yang pintar/tokoh agama yang disegani dan suka menunaikan ibadah sholat lagi? Kenapa mesti terjadi seperti itu? Apakah seperti itu yang diajarkan Rasullulah? yang seharusnya membimbing umatnya untuk jadi lebih baik, kok ini berlaku semaunya sendiri dan jadi amburadul, inilah salah satu penyebab rusaknya Indonesia. Islam kan Rahmatan Lil Alamin, maka jadikanlah sebagai Rahmat untuk alam semesta termasuk manusia didalamnya.
Jika sebagian ada kelompok manusia yang punya keyakinan berbeda dengan keyakinan kita, janganlah cepat-cepat mengambil sikap yang prontal akan tetapi yang perlu kita tanyakan terlebih dahulu, apakah sahadatnnya sama dengan sahadatnya orang Islam? Jika sahadatnya sama persis dengan orang Islam, berarti itu orang Islam, jadi yang namanya orang Islam tentunya tidak boleh lagi atau dilarang mengakui adanya nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW. Tetapi kalau masih mengganggap dan mengakui ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SWT berarti itu keliru dan salah serta bertentangan dengan firman Allah SWT QS 33 : 40: sebagai berikut :
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً
Artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
dan jika itu benar bertentangan maka perlu kita luruskan kembali serta berikanlah kesempatan untuk sadar kembali, tetapi kalau bersikukuh pada keyakinannya dan tidak mau sadar, ya sudah yang penting kita sudah menyampaikannya secara baik-baik, kita tidak usah repot lagi turut campur sama urusan mereka karena mereka itu nanti ada yang mengurusnya yaitu yang ‘lebih mampu’. Jadi jangan main hakim sendiri dan bertindak semaunya tapi ciptakanlah suatu ketenangan dan kedamaian terhadap umat.
Mari kita simak opini berikut : Jika engkau memerintahkan perkara ma’ruf maka jadilah engkau sebagai orang pertama yang mengamalkannya, jika engkau melarang dari perkara mungkar maka jadilah engkau sebagai orang pertama yang meninggalkannya. Dalam hadits yang shahih Nabi Muhammad Shalallahu‘Alaihi Wasallam bersabda : “Tiga golongan yang terlebih dahulu memasuki neraka…“ : (diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya) kemudian Beliau menyebutkan salah satu di antaranya yaitu orang yang mengetahui akan tetapi tidak mengamalkannya, seorang yang membaca Al Quran, seorang yang memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, kemudian pada hari kiamat ia berkata di hadapan Allah SWT : “Aku memerintahkan dan melarang karena Engkau, maka Allah SWT berkata: “Engkau dusta/bohong…”. Orang tersebut adalah orang yang memerintahkan manusia untuk melakukan perkara ma’ruf akan tetapi ia tidak melakukannya, ia adalah seorang yang melarang dari perbuatan mungkar akan tetapi ia sendiri orang yang paling terdahulu melakukan kemungkaran tersebut. Ini adalah bencana yang besar yang tampak pada sebagian orang dan realitanya seperti itu.
Allah SWT mengabarkan kepada hamba-hambaNya agar mereka menyesuaikan perkataan mereka dengan amal perbuatan, dan Allah melarang larangan keras mereka untuk berdusta dalam perkataan sebagaimana Allah juga melarang keras untuk berdusta dalam amalan, Allah SWT berfirman:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS Ash Shoff: 3).
Maka ayat ini menunjukkan bahwa Allah sangat marah kepada orang yang mengajarkan atau berkata akan tetapi tidak mengamalkannya, maka bagaimana engkau berharap kebaikan dari ajakanmu, kebaikan dari perintahmu kebaikan dari laranganmu? Maka berbagai bencana yang terjadi selama ini sebenarnya adalah hasil dari ulah kita sendiri, untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar lagi dan mengerikan sesuai petunjuk yang diterima, mari kita harus mengintrospeksi diri dan memohon kepada Allah agar memaafkan atas segala dosa-dosa kita dan memohon kepada Allah SWT untuk tidak menurunkan bencana yang lebih besar lagi, apalagi jangan sampai terulang kembali sejarah bencana besar pada jaman Nabi Nuh AS dijaman sekarang ini terhadap kita semua atau Negara Republik Indonesia tercinta ini.
Demi terwujudnya kondisi Indonesia menjadi lebih baik dan terhindar dari kondisi yang lebih parah, marilah kita melakukan/menjalankan hal-hal sebagai berikut :
1. Menjaga persatuan dan kebersamaan antar sesama muslim dan khususnya kepada Anggota Pengajian Ridho Allah. 2. Menjalani ilmu tujuh penjernih hati dengan yakin dan sungguh-sungguh serta maksimal (pelajaran ilmu 7 ada di website ini). 3. Berdoa kepada Allah untuk memohon agar tidak terjadi bencana yang lebih mengerikan tersebut. 4. Berdoa dengan memohon kepada Allah SWT agar diselamatkan diri kita, keluarga kita dan seluruh Jama’ah Ridho Allah serta untuk semua pada umumnya. 5. Jangan mengaku sebagai umat Rasulullah, kalau kita belum menjalankan ajaran-ajaran Rasulullah dan yang namanya umat Rasullulah Insya Allah akan selamat, cuma pertanyaannya apakah orang-orang mau diselamatkan? Kalau mau, caranya yaitu dengan menjalani ajaran Rasullalah dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati pasti sudah termasuk umat Rasullulah.
- Kita tahu, bahwa semua yang namanya umat Islam yang sudah beranjak dewasa pasti bisa menjalankan Sholat, tapi apakah umat Islam itu dapat mempertahankan/menjaga Sholatnya? - Selama manusia itu masih melakukan perbuatan keji dan munkar walaupun menjalankan Sholat, namun dimata Allah SWT manusia tersebut belum bisa menjalankan Sholat.
Dan Insya Allah kalau ajaran-ajaran di Pengajian Ridho Allah yang juga ada pada website ini ditaati dan dijalankan secara benar, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang selalu menebarkan kasih sayang antar sesama akan dirahmati-Nya dan selamat. Sesuai dengan sabda Rasullulah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam hadist shohihnya:
(إنما يرحم الله من عباده الرحماء)
“Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hambanya yang penyayang”. (HR Bukhari) dan Beliau bersabda dalam hadits lainnya:
(الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء)
“Ar-Rahman mencintai orang-orang yang penyayang, sayangilah makhluk yang di bumi niscaya Zat yang di langit akan menyayangimu.”
Harapan kita Semoga Allah SWT agar tetap mencurahkahkan kasih sayang-Nya khususnya terhadap kita dan umumnya terhadap Negara Republik Indonesia. Amiin.
Demikian disampaikan, apabila kata-kata dalam penyampaian ini ada yang kurang berkenan mohon kiranya dibukakan pintu maaf bagi kami.
Wasslammualaikum Wr. Wb.
Add as favourites (62) | Quote this article on your site | Views: 5089
|